PLEASE BE MY EDWARD
CULLEN
“Huaaaaahhhh….” Begitulah teriakan Kara setelah menutup novel
Breaking Dawn-nya Stephenie Meyer. “Akhirnya
happy ending juga….,” katanya sendirian di kamar. “Edward tetep sama Bella dan
si Jacob sama Renesmee, ohh so sweettt…”
Kara lalu menghampiri
iPodnya dan mulai menyetel lagu Cristina Perri-A Thousand Years, lalu berjalan menuju ke rak buku mengambil
novel Twilight. Begitulah kalau sudah menjadi fans berat alias Die Hard Fans. Walaupun sudah paham akan
cerita dan segala tetek bengeknya, Kara tetap membaca berkali-kali buku itu.
Seorang Twihard labih tepatnya. Penggemar setia Twilight Saga karya Stephenie
Meyer. Lihatlah kamarnya penuh dengan poster dan segala macam bentuk atribut
dari Twilight. Bahkan hal sepele seperti sandal yang biasa dia pake buat ke
kamar mandi berbentuk Werewolf. Walo banyak temen-temennya jika ke kamrnya
bilang itu hanyalah sandal rumah berbentuk anjing berbulu cokelat. Tapi Kara
tetep ngeyel kalo ini dalah jelmaan dari Jacob Black.
“Update status FB dulu
ahh…,” katanya di sela-sela suara Christina Perri yang merdu sambil meraih
iPhonenya yang juga dilapisi oleh cover Twilight.
“Mulai dari awal, baca
Twilight setelah Breaking Dawn,” begitulah yang dia tulis di statusnya. Tak
berapa lama, berbagai komen dan jempol menghampiri statusnya. Kara tertawa
sendiri saat membaca komen yang menhampiri statusnya. Banyak yang memuji dan
berkata aneh. Tapi Kara hanya membalas beberapa komen lalu meletakkan handphonenya
dan kembali membaca.
***
Keesokan
harinya di kelas. “Andai saja ada Edward Cullen….,” lamunya sambil membuka
halaman novel dan berkhayal.
“Pasti
sudah kutembak jadi pacarku.”
“Hah?
Serius lo??” teriak Vani persis di kuping Kara yang secara reflex menutup
kupingnya.
“Gak
usah kencen-kenceng kenapa sih? Kecilin volomenya!” protes Kara.
Kelihatannya
Vani tidak menghiraukan perkataan Kara, dia malah semakin serius menasehati
Kara saat Kara bilang mau punya pacar Edward Cullen atau tidak punya pacar sama
sekali. Saat itu sedang dalam jam pergantian kelas. Jadi kelas terlalu rame sehingga
tidak ada yang menghiraukan teriakan Vani tadi.
“Kmau
payah sih Van, lihat dong!” Kara mengambil sebuah majalah dari dalam tasnya.
Ternyata majalah yang mengulas film Twilight terbaru, Breaking Dawn Part 2.
Kara menunjuk kearah Robert Pattinson pemeran Edward Cullen yang sedang
melakukan syuting bersama Kristen Stewart pemeran Bella Swan, manusia yang
jatuh cinta dengan vampire dan Taylor Lautner pemeran Jacob Black, manusia
serigala atau sebutan kerennya Werewolf yang jatuh cinta dengan Bella.
“Nih
liat! Masa kayak gini gak keren? Udah ganteng, tinggi, bersih dan lebih
kerennya dia vampire!” Kara antusias saat menjelaskan Edward Cullen kepada
Vani.
“Iya…
gue tau! Tapi gua lebih suka sama Jacob deh! Secara, mukanya gak pucat!” kata
Vani sambil memandangi tubuh Taylor Lautner yang menjadi impian para
gadis-gadis remaja jaman sekarang. Lalu Kara mencak-mencak!
“Tapi
Edward ganteng!”
“Jacob
juga, dan dia umurnya masih muda gak kayak Edward yang umurnya udah ratusan
tahun!” goda Vani.
“Engggaaaa!!
Pokoknya tetep Edward! Gue kan Team Edward! Jadinya gue harus mendukung Edward
kapanpun dia membutuhkan gue!”
Vani
gemas melihat temannya ini. Sepertinya Kara masih belum bias membedakan mana
yang kenyataan dan mana yang khayalan.
“Udah
ah… bosen gue ngejelasin ini ke elo! Sadar Ra, sadar! Mereka ini fantasi! Gak
ada di dunia kita sekarang! Toh kalaupun ada, mereka bukan vampire,
werewolf!mereka artis Hollywood yang tiap hari dikejar paparazzi. Jadi,
sekarang loe terima kenyataan ya, putri tidur! Weke up! Banyak kok cowok keren
di sekitar kita! Jangan terlalu memikirkan si Edward lah! Entar lo jadi jomblo
selama di sini mau?” Vani memberikan ceramahnya yang sudah tak terhitung
banyaknya kepada Kara.
Tapi
tumben sekarang Kara beringsut diam. Tidak membalas ceramahan Vani. Biasanya
Kara akan menjawab dengan kata-kata, ‘Habis lulus gue mau ke Fork. Tenpat
mereka syuting dan tinggal di sana! Siapa tahu bener-bener ada Edward Cullen
yang nyasar trus jatuh cinta denganku.’
“Ra?
Kara? Elo gak apa-apa kan?” Tanya Vani melihat Kara memndangi majalahnya dengan
tatapan kosong.
“Kalo
dipikir-pikir ge sampe sekarang jomblo yah?” kata Kara lirih. Vani menghela
napasnya. Dia tahu Kara ini cantik, pintar dan sebenarnya banyak cowok yang mau
meletakkan hatinya ke Kara. Cuma, Kara masih bermain-main dengan imajinasinya.
Dia berkomitmen mau pacaran dengan vampire atau nggak Robert Pattinson.
“Itu
sih karena elo gak mau buka hati elo sama cowok-cowok di luar sana! Hati elo
tertutup sama Edward Cullen lah, vampire lah, Robert Pattinson lah! Mereka itu
imajinasi!” terang Vani.
“Robert
Pattinson gak. Dia nyata!” bantah Kara,
“Iya
emang! Dia nyata. Tapi dia nongol di depan lo gak sekarang? Bawa=bawa bunga
buat lo? Ato enggak… dia kenal lo?”
“Kenal!
Dia kenal gue! Kan udah temenan di Fb!” Kara ngotot.
Vani
terbahak. Ternyata Kara ini seperti anak kecil poos yang tidak bias dipisahkan
dengan idolanya.
“Itu
mungkin ajah palsu! Rata-rata artis kan gak punya Fb!” kata Vani menhan
tawanya.
“Tapi
gue follow dia di Twitter!” bantah kara lagi. Bahkan semua pemain Twilight dia
follow. Kara mengambil iPhonenya lalu dengan gerakan sangat cepat dia mebuka
akun Twitternya.
“Nih!
Lihat! RPattz! Alias Robert Pattinson, Edward yang paling ganteng! Ada juga nih
Taylor Lautner! alias Jacob!”
Vani
melongos sudah berapa kali Kara memperlihatkan semua ini. Lebih dari ratusan
mungkin.
“Tapi
mereka followback elo gak?” satu pertanyaan ini membuat Kara terdiam. Tapi
dengan cepat ia menjawab.
“E…
enggak! Tapi gue terus mention dia!”
“Ada
yang di bales atau di retweet?”
“Kan
mereka sibuk! Lagian followers mereka banyak! Jadi gak mungkin mereka membalas
satu persatu mention yang di berikan penggemar.”
“Lha…
kalo gitu, gimana si Robert ini mau jadian sama elo? Paling buat Robert lo itu
Cuma satu dari ribuan penggemar beratnya dia! Lagian juga Robert Pattinson udah
sama Kristen Stewart!”
“Tapi…
“ belum sempat kara membantah, pak Jodi guru biologi mereka masuk. Suasana
kelas mendadak hening.
“Maafkan
bapak telat. Tadi di suruh menemiu kepala sekolah di kantor. Soalnya kelas ini
akan ada murid baru waktu pelajaran bapak. Jadi silahkan masuk nak,” kata pak Jodi menyuruh siswa yang tadi cum
angintip-ngintip dari luar untuk masuk ke dalam kelas.
Kara
membuka matanya lebar-lebar. Dia tidak percaya siapa yang jadi murid baru. Dia
mau berteriak taoi akal sehatnya berhasil menahannya. Jadinnya hanya pekikan
rendah yang hanya di dengar oleh Vani.
Murid
itu seorang cowok. Sepertinya asli keturunan, bukan asli orang Indonesia.
Wajahnya pucat dan rambutnya agak kecoklat-coklatan di buat model spiky.
Matanya awas memandangi sekeliling. Beberapa anak cewek terkesan ribut. Mereka
terpesona seperti halnya Kara.
“Van…
gue gak lagi mimpi kan?” kata Kara sambil berbisik.
“Kenapa?”
Tanya Vani bingung.
“Di
depan kelas Van…di depan kelas…masa lo gak liat? Itu…itu…itu Edward Cullen,
Van!” Vani hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku temannya ini.
Cowok itu emang tampan tapi itu buka tipe Vani. Kegaduhan mulai merembet di
dalam kelas sebelum pak Jodi mengetuk-ngetukkan penggaris ke papan tulis.
“Oke,
silahkan perkenalkan diri mo disini.” kata pak Jodi.
“Ehmm…
selamat siang… nama saya Edi, Edi Mangunjoyo, asal jogja. Tapi saya pindahan
dari inggris, salam kenal.” Gaya bicaranya sungguh sopan dan lancer bagi
seorang pindaha dari luar negri tapi beberapa cewek termasuk Kara tak bias
mengedipkan mata saat melihat ketampanan Edi.
Seusai
menyampaikan salam Edi duduk di bangku deretan tengah, Kara tak bias melepaskan
pandangan dari Edi. Sampai Vani menyenggolnya.
“Apaan
sih?” kata Kara yang hamper membuat seluruh mata menoleh padanya. Saat itu pak
Jodi sedang mrnulis di depan papan tulis.
“Ehmm…
ada yang kasmaran nih, padahal baru pandangan pertama.hihihi…” goda Vani.
“Gila!
Mana mungkin gak ada cewek yang tertarik sama Edward Cullen kayak gitu.”
“Edward
Cullen dari hongkonh? Namanya ajah Edi Mangunjoyo! Sadar woy!” tak sadar mereka
sedang cekikikan saat kelas sedang hening.
“Yang
belakang jangan berisik saja!” bentak pak Jodi yang dari tadi sudah bersabar
membiarkan ada yang berisik.
Kara
dan Vani mendadak diam seperti patung. Mereka tidak akan berisik lagi sampai
pelajaran selesai. Tapi pandangan Kara tidak pernah lepas dari Edi, Edward
Cullennya yang baru saja telah di temukannya.
Selama
pelajaran sepanjang hari ini. Kara tidak bias memindahkan bola matanya dari
Edi. Entah ada magnet berapa ton sampai-sampai Kara berbuat demikian. Biasanya
dia di taksir oleh cowok-cowok sampai ia menolaknya. Kali ini giliran dia yang
‘harus’ menaksir cowok sampai harus diterima oleh sang cowok!
‘Ya!
Ini kemungkinan konyol! Tapi harus gue lakukan daripada gue melepaskan Edward
ku ke tangan cewek lain! Ga boleh! Ini gak boleh! Dia Edward ku!’ batin Kara.
Vani yang melihat temannya seperti kesurupan hanya bias mengelus dada.
‘Moga-moga
temen gue disadarkan, ya Tuhan!’ doa Vani.
“Gak
pulang lo Ra?” Tanya Vani.
“Ehh…
enggak lo pulang dulu ajah, ada perlu nih.” Kata Kara dengan nada mencurigakan.
Tidak biasanya dia menolak ajakan Vani. Vani melihat kea rah bangku Edi. Di
dalam kelas tinggal mereka ber-3. Vani tahu maksud Kara.
“Okelah…gue
cabut dulu.”
Sekarang
saatnya! Kelas sudah sepi, Edi masih sibuk mencatat tulisan di papan tulis, aku
harus bergerak, piker Kara mantap. Dia berjalan mendekati Edi.
“Edi…”
sapa Kara dulu. Edi melihat siapa yang menyapanya. Dia piker dia sendirian di
kelas ternyata masih ada orang lain.
“Yah…?
Ada yang bias ku bantu?” kata Edi ramah.
“Emm…
kamu suka Twilight?” Tanya Kara basa-basi. Edi kaget. Kenapa tiba-tiba dia
sodorkan pertanyaan seperti ini.
“Twilight?
Yang tentang vampire dan werewolf gak jelas itu?” kata Edi datar. ‘kok gak
jelas sih! Mereka itu jelas dan keren,’ batin Kara protes.
“Tapi
kamu suka kan?”
Edi
mulai berpikir bahwa yang di hadapannya kini adalah bukan manusia, melainkan
penghuni kelas ini. Dia mengintip kaki Kara. Dia masih lega kaki itu masih
menapak di tanah bukan melayang.
“Kamu
suka, kan?” paksa Kara. Dia berharap Edward Cullennya menjawab pertannyaan ini.
“Maaf.
Saya di inggris gak ada waktu buat nonton begituan. Apalagi di jogja saya jarang
keluar rumah.”
Jarang
keluar rumah! Pernyataan ini semakin membuat Kara bernafsu bertannya hal
penting yang dari tadi berkecamuk di pikirannya.
“Jarang
keluar rumah? Jangan-jangan kamu vampire? Iya kan kamu vampire kan? Kamu
keluarga Cullen atau Volturi? Hah? Ayo ngaku!”
“Hehh??”
Edi semakin bingung. Di depannya kali ini dia yakin bukan cewk biasa! Tapi
cewek yang terobsesi dengan fiksi yang akut! Dengan cepat Edi memasukkan semua
catatannya ke dalam tas. Dia takut cewek ini tiba-tiba mulai mencakar-cakar
dirinya.
“Lho?
Lho? Kok gak di jawab? Mau kemana?”
“Pu-pulang…,”
kata Edi ketakutan.
“Jadi
bener kamu ini vampire?” Kara mengulang pertanyaan it uterus-terusan. Edi
semakin ketakutan. Dia bergegas meninggalkan kelas. Tapi Kara terus
mengikutinnya. Kara terus memanggil nama Edi. Edi jengah, dia balik badan dan
menghadapi teman sekelasnya yang aneh.
“What
do you want from me? Hah?” kata Edi marah. Tapi dia menahan emosinnya agar
suarannya tidak terdengar berteriak.
“Aku…aku…MAU
KAH KAMU JADI PACARKU??” kata-kata ini keluar dari mulut Kara dengan cepat. Edi
kaget dengan kennyataan yang ada di depannya. Dalam waktu sehari dia pindah
sudah ada cewek yang menyatakan cinta padannya?
“A…apa-apaan
sih ini?” Edi masih tidak percaya.
“Maukah
kamu jadi Edward Cullen ku?” Kara mungkin sudah kehilangan akalnya. Tapi dia
lebih baik kehilangan akalnya daripada kehilangan sosok Edward Cullennya.
Edi
kebingungan. Dia belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Dia berusaha
tampak tenang dan menjelaskan semuannya pada Kara.
“Dengarkan
aku. Aku bukan Edward Cullen. Dan aku tidak tau siapa dia. Namaku Edi. Edi
Mangunjoyo! Aku berasal daro jogja walaupun orang tuaku berasal dari inggris.
Tapi pertama aku gak kenal kamu. Iya, kita teman sekelas tapi…” Edi tidak bias
melanjutkan kata-katanya. Mata Kara berkaca-kaca mendengarkan perkataan Edi.
Edward Culenya menolaknnya! Biasannya dia menolak cowok tapi kali ini, DIA DI
TOLAK OLEH EDWARD CULLEN NYA!
MENDADAK
DUNUA Kara berhenti.bayangan Edward Cullen yang menari-nari di kepalannya
mendadak buyar. Pecah berkeping-keping. Segala imajinasinnya yang dia tumpuk
sejak pertama kali nonton film Twilight di bioskop, adegan dansa di film
Twilight hanyalah impian. Edward Culen ternyata hanya fiksi yang telah lama dia
pupuk di fikirannya. Kenyataan memang pahit.
Sambil
menahan tangis, Kara berlari. Edi memanggilnya dari belakang. Tapi ia tidak
meerdulikan panggilan Edi! Edi tetaplah Edi! Edi Mangunjoyo! Soalnya Edward
Cullen tidak akan menolak Kara. Dan Edi Mangunjoyo bukanlah Edward Cullen. Pikiran-pikiran
ini berputar-putar di otak Kara. Sampai dia tidak sengaja menabrak seseorang.
“Hati-hati
dong sakit tau!” kata orang yang di tabrak Kara.
Sambil
menahan sakitnya Kara mala ngomel sama orang yang dia tabrak, “Elo kalo jalan pake ma…” Kara tidak melanjutkan
kata-katanya.
Kara
terpesona pada cowok yang dia tabrak.
Cowok bertubuh kekar. Punya tampang imut seperti,
“Jacob
Black?” kata Kara.
“Hah?
Siapa? Elo gak geger otak kan?” kata cowok yang dalam pikiran Kara berubah
menjadi Taylor Lautner.
Kali
ini Kara berhasil menhapus semua gambaran Edward Cullen. Di pikirannya kini
penuh dengan wajah cowok yang berada di hadapannya, Jacob Black.
“Kamu
mau menjadi Jecob Black ku?” kata Kara spontan,
.
kali ini dia tidak mau kehilangan Jecob Black yang sekarang persis di
hadapannya. Walaupun dia tadi di tolak oleh Edward Cullen-nya.
“Haaahh??”
Cowok
ini yakin yang menabrak dia adalah salah satu pasien rumah sakit yang
tergila-gila dengan Twilight.
Sedangkan
Kara masih berimajinasi dirinnya di gendong Jacob Black. Seperti pada adegan New Moon.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar